Amba dan Bisma

Gallery

Amba bersama Ambika dan Ambaki, kakak beradik, puteri Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura dengan peramisuri Dewi Swargandini. Ketiganya dimenangkan Bhisma bagi sang adik Wicitrawirya dalam sayembara. Namun Amba yang telah jatuh hati pada Shalva meminta pembebasan dirinya. Tak diduga Shalva tak rela menerima Amba sebagai hadiah dari Bhisma. Akhirnya Amba meminta Bhisma menikahinya. Bhisma pun menolak mengingat sumpahnya untuk melakukan bhishan pratigya (Brahmacarin=selibat). Amba yang marah, bersemedi meminta kekuatan untuk membalas dendam. Amba pun mati di ujung panah Bhisma. Tetapi kelak Bhisma pun hanya bisa dibunuh setelah Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi. 

Di Kurusetra, Bhisma menyuruh sais bergerak zigzag maju dan menyerang. Tapi tiba-tiba sebuah kereta lain menderu, dalam sekejap mata, dari balik bukit di kiri. Di atasnya seorang kesatria, membidik. Ketenangannya mengejutkan, tapi lebih mengejutkan lagi: ia seorang wanita. Bhisma tertegun. Kata orang kemudian, pada momen itu wajahnya yang tua tampak terkesima, lesi, dan ia mengurungkan busurnya, berseru, “Amba….” Kata itu tak selesai. Bhisma seakan-akan dijemput mautnya yang telah ia kenali. Sebilah anak panah lepas dari busur kesatria wanita yang gagah ramping itu dan menghunjam keras ke belikat Bhisma yang tak terlindung. Darah muncrat membasuh baju perang. Bhisma tersentak sejurus ke belakang. Ia sedang hendak tegak kembali, ketika lima anak panah yang mengerikan, dengan kecepatan luar biasa, melabrak lehernya. Tembus. Konon, hanya Arjuna yang bisa menembak seperti itu – dan Bhisma terjungkal dari kereta. Setelah itu, tak jelas benar apa yang terjadi. Yang tampak hanya sejumlah besar pasukan inti Pandawa, dengan perisai mereka yang jingga, menyerbu wilayah itu. Dengan mudah mereka membinasakan sekitar 70 prajurit Kurawa yang terkejut melihat panglima besar mereka terhantar di tanah. Lalu suasana sepi: Arjuna memberi isyarat agar pertempuran dihentikan, dan ia turun dari kereta. “Bhisma gugur!” terdengar teriak pertama, seperti melolong. Kabar kemudian menjalar beranting ke Kurusetra yang luas. Pertempuran pun jeda, dan orang sadar: Kurawa telah kehilangan seorang panglima besar. Matahari merendah ke barat, ketika Arjuna membungkuk di depan tubuh lawannya: laki-laki yang tiga puluh tahun yang lalu, dengan suara besarnya yang hangat, sering menimangnya di pangkuan – dan kini telentang menanti mati. Bhisma.

Darah mengalir deras dari merihnya. Tapi ada sesuatu yang agung di tubuh tua yang kukuh itu: pria perkasa itu seakan-akan terduduk memandang ke depan, dengan kepala yang terangkat oleh lima anak panah yang menghunjam tembus di lehernya. Ia tersenyum. “Arjuna . . . ,” suaranya serak oleh darah di kerongkongan. Arjuna bersimpuh, gugup, ialu mencium ujung kaki Bhisma yang telanjang. Gaduh di sekitar pun reda. Langit dilewati awan. Beberapa kesatria Kurawa (juga Duryudana sendiri) tampak bergegas datang ke tempat itu, hendak mengangkat tubuh Bhisma ke pembaringan. Sang Panglima menolak. Ada yang bercerita kemudian bahwa Bhisma malah berkata, “Arjuna, terima kasih. Panah ini menyanggaku.” Lalu suaranya layu. Sanjayalah yang kemudian menyusun laporan lengkap tentang gugurnya Bhisma buat Baginda Destarasta. Raja tua itu menangis ketika ia dengar apa yang diucapkan Bhisma menjelang ajalnya yang perlahan-lahan, seakan-akan memilih saatnya sendiri: “Arjuna, Cucuku, Amba telah menyongsongku. Bukan, bukan panah prajurit wanita itu. Di Kurusetra ini Amba membalas. Aku selalu tahu pedih hatinya, setelah bertahun-tahun yang lalu ia kuculik dari pria yang dicintainya. Aku seharusnya tak menyesal. Ia kuculik untuk adikku, agar Wicitrawirya bisa menikah dan, sebagai bakal raja, segera memperoleh anak. Tapi Amba menolak. Kukembalikan ia kepada tunangannya, tapi pangeran itu meragukan kesuciannya. Dan Amba mati oleh malu, oleh nestapa, oleh hina, Cucuku. Dan aku tak pernah bisa melupakan itu.” 

 “Memang, kita harus menjalankan kewajiban: kesatria hanya tumbuh dalam tugas. Aku menyelesaikan tugasku – juga untuk perang saudara ini, malapetaka ini. Kita bekerja untuk rencana-rencana besar, Cucuku. Tapi aku juga bertanya-tanya, pada saat yang sama, apa gerangan yang terjadi pada korban dan kesedihan, dan dosa, di antara kita, ….” Arjuna merunduk. Matahari akhirnya terbenam, dan Bhisma wafat dihadap sebelas bukit Kurusetra, dan kesatria Pandawa yang membunuh kakeknya itu tahu: di senja itu, ia juga merasakan kesangsian itu. Amba datang menjemput Bhismaa.  Dua jiwa yang tak tersatukan takdir dunia, dipersatukan di kehidupan abadi. Bunga teratai menyambut keduanya menjejaki nirwana.

24.05.11, 10.45

– SW

dari seorang sahabat jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s